inilah cara Sukanto tanoto Kebakaran hutan dan lahan merupakan salah satu masalah yang sangat penting di Indonesia. Pada tahun 2015 lalu, masalah ini merupakan salah satu masalah yang paling parah sepanjang sejarah. Hanya dalam hitungan bulan saja, Indonesia kembali dilanda masalah kebakaran. Status darurat sampai diberlakukan di satu provinsi karena parahnya kebakaran yang terjadi. Sejak bulan Juni hingga Oktober 2015, terdapat lebih dari 100.000 kasus kebakaran yang berakibat pada rusaknya jutaan hektare hutan di Indonesia. Korban meninggal dunia terus menerus berjatuhan, baik manusia maupun hewan. Sementara jika dilihat dari segi ekonomi, masalah ini mengakibatkan kerugian yang mencapai lebih dari 15 miliar dolar Amerika atau setara dengan 196 triliun rupiah.
Sejatinya, masalah ini telah berlangsung lebih dari 20 tahun lamanya. Kebakaran hutan dan lahan seolah menjadi acara tahunan bagi para petani dan perusahaan yang ingin membuka lahan untuk kepentingan industri. Dari tahun ke tahun, masalahnya menjadi semakin parah alih-alih membaik. Di tahun 2015 saja, sebagian wilayah negara Indonesia dan sejumlah negara di Asia Tenggara diselimuti oleh asap beracun hasil kebakaran hutan, selama beberapa pekan. Ini tentunya sesuatu yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat di wilayah yang diselimuti asap beracun, dibuktikan dengan adanya setengah juta orang yang dirawat di rumah sakit akibat teracuni asap.
Masalah kebakaran hutan dan lahan akibat pengelolaan yang buruk ini menjadi fokus bagi Royal Golden Eagle Grup. Dalam World Economic Forum 2016, pimpinan RGE yang juga merupakan pengusaha ternama yakni Sukanto Tanoto, mengatakan bahwa kemitraan produksi perlindungan yang dijalankan oleh APRIL Grup telah disesuaikan serta ditingkatkan metodologi pengelolaan lahannya. Peningkatan yang dimaksud oleh Sukanto Tanoto adalah, RGE mengombinasikan berbagai yang telah dijalankan sebelumnya dalam waktu yang cukup lama, serta mengadopsi pendekatan-pendekatan baru dan mengembangkannya untuk pengelolaan lahan yang baik. Contohnya seperti yang dilakukan oleh APRIL Grup dan Asian Agri. Kedua perusahaan ini menerapkan kebijakan no-burn, melakukan pengelolaan penggunaan mesin, serta tak lupa untuk melibatkan masyarakat dalam melakukan kegiatan yang bertujuan mencegah terjadinya kebakaran. Langkah-langkah ini sangat efektif dalam menghindari kebakaran akibat proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan yang tergabung di bawah naungan RGE.
Keputusan yang diambil oleh Royal Golden Eagle Group ini merupakan suatu langkah cemerlang yang selayaknya mendapatkan apresiasi. Tidak seperti korporat pada umumnya, RGE tidak hanya sekedar berfokus pada mengeruk keuntungan semata. RGE juga membuktikan kepeduliannya terhadap kondisi lingkungan sekitar. Ini sesuai dengan komitmen sang founder untuk selalu menjaga kondisi lingkungan serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan sumber daya alam, langkah yang diambil oleh RGE ini juga menguntungkan bagi perusahaan sendiri karena tanpa dukungan dari alam yang baik, maka proses produksi dari perusahaan pun pasti akan terganggu.